
KENDARI – Bupati Konawe Utara, H. Ikbar, S.H., M.H., bersama Wakil Bupati H. Abu Haera, S.Sos., M.Si., tampil memukau dengan mengenakan pakaian adat Tolaki khas Konawe Utara saat menghadiri Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin (27/4/2026). Kehadiran duo pemimpin Konawe Utara ini mencuri perhatian tamu undangan di Lapangan Eks MTQ, Kota Kendari. Mereka kompak mengenakan busana tradisional Tolaki berwarna hitam melambangkan persatuan, hukum adat, dan keluhuran budi pekerti masyarakat Konawe Utara.

Warna hitam yang dominan dipadukan dengan sulaman benang emas pada bagian kerah dan lengan, mempertegas kewibawaan pemimpin, melambangkan kesiapan seorang pria dalam melindungi rakyat, serta Pabele (penutup kepala) dengan lipatan khas yang menunjukkan strata sosial dan kepemimpinan. Perhelatan akbar tahun 2026 ini terasa sangat istimewa karena dirangkaikan dengan peringatan Hari Otonomi Daerah (Otoda) ke-30 serta gelaran Semarak Dirgantara dalam rangka menyambut HUT ke-80 TNI Angkatan Udara.
Suasana upacara semakin semarak saat para hadirin, termasuk Bupati H. Ikbar dan Wabup H. Abu Haera, disuguhi pemandangan spektakuler di langit. Sebanyak belasan penerjun payung profesional dari TNI AU melakukan aksi terjun bebas (free fall) dari ketinggian ribuan kaki. Dengan teknik presisi, para penerjun mendarat tepat di titik sasaran sembari mengibarkan bendera Merah Putih dan lambang daerah Sultra.

Bupati Konawe Utara, H. Ikbar, menyampaikan bahwa penggunaan pakaian adat ini bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi jati diri.
“Motif tenun yang kami kenakan adalah identitas Konawe Utara. Di momentum HUT Sultra ke-62 ini, kami ingin menunjukkan bahwa kemajuan daerah tidak boleh meninggalkan akar budaya. Kami berkomitmen untuk terus bersinergi dengan Provinsi demi Sultra yang lebih maju,” ujar H. Ikbar.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama jajaran Forkopimda Sultra dan ramah tamah bersama seluruh kepala daerah se-Sulawesi Tenggara, di mana penampilan delegasi Konawe Utara menjadi salah satu yang paling diapresiasi karena konsistensinya menjaga kelestarian motif tenun asli daerah.

